Safruddin: Data Tak Sinkron Picu Tumpang Tindih Bantuan Nelayan di Kukar
Anggota Komisi I DPRD Kukar, Safruddin. (pic:ist)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR
: Persoalan tumpang tindih bantuan bagi nelayan di Kutai Kartanegara (Kukar)
menjadi perhatian serius Anggota Komisi I DPRD Kukar, Safruddin.
Ia menyoroti adanya
dugaan program bantuan dari anggaran pusat dan Kabupaten yang menyasar kelompok
masyarakat yang sama, sehingga memunculkan kesenjangan. Menurut Safruddin, akar
masalahnya terletak pada sistem pendataan yang belum terintegrasi.
“Data penerima
bantuan sering kali bersumber dari Dinas Sosial, sementara kelompok nelayan
tersebut juga sudah menerima bantuan serupa dari Pemerintah Kabupaten,” ungkap
Safruddin saat diwawancarai Jumat (08/08/2025).
Lebih lanjut
dikatakannya kondisi ini menyebabkan sebagian individu mendapatkan bantuan
ganda, satu dari pusat dan satu dari daerah.
“Ini bukan kesalahan
masyarakat, melainkan lemahnya koordinasi antar lembaga penyalur bantuan,”
tegas Safruddin.
Ia menjelaskan,
beberapa program bantuan dari pusat memang bersifat perorangan dan termasuk
kategori pengentasan kemiskinan.
Namun, jika
verifikasi data penerima tidak dilakukan dengan cermat, potensi bantuan ganda
akan terus terjadi. Safruddin menekankan pentingnya transparansi dalam
pendataan dan penyaluran bantuan.
“Perlu ada sistem
kontrol yang lebih ketat supaya bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak
menimbulkan kecemburuan sosial,” ujarnya.
Menanggapi isu
penyalahgunaan bantuan, seperti adanya warga yang menjual barang bantuan, ia
mengambil sikap tegas.
“Di tempat saya,
kalau ada yang menjual bantuan, langsung saya cut, tidak akan mendapat bantuan
lagi selama beberapa tahun,” ungkapnya.
Menurutnya, langkah
ini perlu diambil untuk menjaga integritas program bantuan sekaligus memberi
efek jera kepada penerima yang tidak memanfaatkannya dengan benar.
“Kita harus
memastikan bantuan ini digunakan sesuai tujuan,” tambahnya.
Ia pun mendorong pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, memperbaiki sistem pendataan dan pengawasan. Dengan begitu, ketimpangan dalam pelaksanaan program bantuan sosial dapat diminimalkan.
“Tujuan kita jelas,
bantuan ini harus menyentuh orang-orang yang tepat. Jangan sampai program
pengentasan kemiskinan malah menimbulkan masalah baru,” tutup Safruddin.
(Adv/Tan)